RSS

menjadi puteri indonesia

Angelina Sondakh, Denise Quinones (Miss Universe 2001), me :)

Angelina Sondakh, Denise Quinones (Miss Universe 2001), me :)

Menjadi Puteri Indonesia tidaklah sulit, ia hanya harus menjadi dirinya sendiri….

Masih terekam jelas dalam ingatan saya, itu adalah kalimat yang saya pilih saat kami para kontestan diminta untuk mengampanyekan diri kami masing-masing dalam iklan malam final Pemilihan Puteri Indonesia yang disiarkan langsung Indosiar.  Harapannya, penonton akan lebih mengenal kami, walau hanya melalui sepotong ucapan, semboyan, atau apapun itu namanya dalam bentuk iklan.  Panitia membebaskan materi apa yang akan kami pilih untuk promosi diri, asal durasinya tidak lebih dari 30 detik.

Beberapa teman memilih menceritakan alasan mereka mengikuti ajang Puteri Indonesia.  Sebagian yang lain menyelipkan beberapa prestasi nasional dan internasional, yang kira-kira relevan menjadikan mereka calon kuat Puteri Indonesia 2001.  Saya sempat kelu.  Datang tanpa pernah bermimpi memenangi kontes seperti ini, saya berpikir keras saat itu.. prestasi apa yang bisa saya banggakan… Hobby saya yang kadang membawa prestasi nggak jauh dari basket, main drum, menyanyi, atau karate.  Saya nggak pernah ikut putri2an sebelumnya, juga nggak punya prestasi internasional seperti pertukaran pelajar, misalnya…  Ah, pusing sayah!

Beruntung, dari 35 peserta, saya kebagian nomer 32 (karena kontestan no.1 adalah Aceh, dan kontestan terakhir adalah Papua) sehingga saya masih punya waktu berpikir, apa “jualan” saya di depan kamera.  Yang pasti, saat itu saya ingin kalimat yang keluar dari mulut saya jujur, nggak mengada-ada, atau berlebihan.  Saya ingin jadi diri saya sendiri saja.  Nah, Itu dia!  Mengapa saya harus susah-susah?  Maka saat giliran take, kalimat itulah yang keluar dari mulut saya: “Menjadi Puteri Indonesia tidaklah sulit.  Ia hanya harus menjadi dirinya sendiri.”  Dari segi durasi, mungkin saya rugi.  Bayangkan, dari jatah 30 detik untuk mempromosikan diri, saya hanya menghabiskan sekitar 7 detik saja.  Hahahaha…

Tapi itulah saya.  Bagi saya, bahkan sampai sekarang, menjadi Puteri Indonesia memang nggak susah kok.  Ia hanya harus memiliki karakter yang kuat, sehingga tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.  Tetapi, menjadi diri sendiri juga tidak sama dengan menutup mata dan telinga dari masukan dan kritik.  Toh saya juga beberapa kali harus menelan pahitnya kritik dan masukan dari beberapa kawan, demi saya yang lebih baik, tanpa mengubah jati diri saya.

Tulisan ini saya gubah bukan karena momentum penahanan Angelina Sondakh, Puteri Indonesia 2001 terkait kasus korupsi.  Sama sekali tidak.  Angie punya prestasi, jalan hidup, dan pilihan hidupnya sendiri. Begitupun saya, dengan pilihan hidup saya yang kadang “ajaib” :p. Saya tidak pernah dalam posisi menilai, apalagi menghakimi Angie.  Tetapi agak sedih juga ya, melihat CG TVone, misalnya, yang memilih kalimat: “Sang Puteri Masuk Bui”.  Well, memang gelar Puteri dan apa yang menimpanya menjadi “terlalu seksi” untuk tidak diangkat sebagai background pemberitaan.  Tetapi kadang media kemudian malah gagal menjelaskan duduk perkara karena terlalu asyik “memainkan” background itu.  Ada lagi yang lucu.. Beberapa teman yang, entah bercanda atau tidak, belakangan ini gencar bertanya: “Kalau Angie dipenjara, kamu runner up-nya jadi Puteri Indonesia 2001 dong ya menggantikan Angie?”  Biasanya dengan tergelak, saya menjawab: “Aduh, itu sepuluh tahun yang lalu loh!”

Teman-teman, Angelina Patricia Pingkan Sondakh terpilih menjadi Puteri Indonesia pada tahun 2001 berdasarkan penilaian para juri saat itu.  Apa yang menimpanya saat ini, menurut saya tidak akan pernah menggugurkan gelar yang diraihnya 11 tahun yang lalu itu… :)  Pasti juri punya pertimbangan yang matang sehingga menobatkan Angie sebagai pemenang.  Benar kan, Bapak dan Ibu juri?

Mungkin, pola pikir dan cara pandang kita juga harus sedikit diubah.  Well, mungkin loh.. Katakanlah ini tawaran dari saya.  Bagaimana kalau kita melihat Puteri Indonesia lebih dari sebatas gelar kontes Brain, Beauty, and Behavior yang disponsori produk kosmetik?  Bagaimana kalau kita melihat Puteri Indonesia sebagai sebuah konsep? Konsep Perempuan Indonesia yang berkarakter kuat, yang tidak perlu ajang pembuktian, selain menjadi dirinya sendiri yang berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak? :)

 

Magic Number 33

hellena yoranita souisa

celebrating life!

Three is a magic number

Ya it is, it’s a magic number

Somewhere in that ancient mystic trinity

You’ll get three

As a magic number

The past, the present, the future,

Faith, and hope, and charity,

The heart, the brain, the body,

Will give you three,

It’s a magic number

It takes three legs to make a tripod or to make a table stand,

And it takes three wheels to make a vehicle called a tricycle

And every triangle has three corners,

Every triangle has three sides,

No more, no less,

You don’t have to guess

That it’s three

Can’t you see?

It’s a magic number

-Three is the magic number, Blind Melon-

Yup, today I turn to be 33 years old Lady.  Can you imagine, if 3 is the magic number, now I have double-magic numbers on my age :)   Thank You, Lord.. Thank you, Love.. Thank you beloved Friends and Family, Thank you, the Universe..  Terlalu banyak pinta yang kupanjatkan selama 33 tahun perjalanan hidup ini. Dan walau tak semua keinginanku terkabulkan, tak ada alasan untuk berhenti bersyukur karena DIA telah menjaga dan memberikan apa yang ku perlu, bukan apa yang ku mau.  Sehingga aku percaya, hadiah di usiaku yang tidak muda lagi ini menjadi ukuran keperluanku.  Terimakasih.. Juga untuk mereka yang selalu mendukungku, yang menginspirasiku dalam karya dan cinta, yang mengingatkan bahwa ”Tak semua tentara ada di garis depan pertempuran. Ada kalanya duduk di Mabes utk mengatur strategi & logistik utk front liner” supaya aku tak putus semangat saat aku merasa kecil dan belum ‘apa-apa’ … Energi, semangat, inspirasi,dan oksigen untuk hari-hariku yang kadang melelahkan..  Let’s celebrate life! 

Jakarta, April 21st 2012 – from the bottom of my 33 years old heart

 
Leave a comment

Posted by on April 20, 2012 in journey, renungan, unforgetable

 

Tags:

Pulang ke Ambon

Pintu Kota, Ambon

@Pintu Kota, Ambon - Maluku

Yup, minggu lalu saya menghabiskan 5 hari di Ambon.  Bukan tanah kelahiran saya, tetapi tanah kelahiran Ayah saya, yang di dalam darahnya mengalir budaya dan adat istiadat Maluku, sehingga pasti juga menurun ke saya, dan ada di dalam darah saya.  Berada di Ambon, barulah terasa keindahan cuti :D

Pulang ke Ambon memang bukan hal yang baru.  Tapi baru kali ini saya benar-benar menghabiskan waktu bersama keluarga besar saya di sana.  Perginya pun terbilang unik, hanya berdua Ayah saya yang asli Maluku itu.  Jika dulu kami anak-anak beliau yang diladeni saat perjalanan, sekarang baru sadar bahwa Papa sudah tidak muda lagi.  Saya harus ekstra sabar meladeninya.  Mulai dari mengurus bagasi, sampai menjadi operator in-flight-entertainment karena Papa sama sekali nggak familiar dengan teknologi touch screen di pesawat.

Well, most of all, perjalanan ini menyenangkan.  Ambon masih indah seperti yang dulu.  Pintu Kota hanya salah satu kecantikan sudut kota Ambon yang saya hadirkan di posting ini.  Masih banyak yang lain.  Sayangnya, tidak ada lagu tentang Pintu Kota.  Maka biarkan saya mendendangkan lagu yang satu ini…

Kota Ambon, Ibu Negri Tanah Maluku…  Di pinggir laut tempat beta bersatu..  Dari jauh ku lihat gunung Salahutu.  Beta ingat dahulu beta di situ..  Bulan terang benderang di pinggirnya pantai.. Suara gitar bunyi tifa rame-rame..  Kota Ambon dengan teluk yang indah permai.. Apa tempo beta lihat ose laii…

-bersambung-

 

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2012 in journey

 

salah

Semua orang bisa salah.  Awalnya salah menduga, kemudian bisa salah paham.  Kadang kita merasa sudah mengenal seseorang, tapi masih juga bisa salah memahami.  Mungkin terjadi karena salah menempatkan diri, salah berujar, salah bertingkah, akhirnya salah memutuskan.  Repot memang berurusan dengan si salah ini.

Tapi dia tak selalu berarti jelek.  Kalau kita salah menduga, bisa jadi yang awalnya di pikiran kita buruk, malah tidak seburuk yang terpikirkan. Parahnya, kalau hati kita sudah membumbung tinggi ke langit ketujuh, dan ternyata interpretasi kita salah.  Terlemparlah kita menjejak bumi.  Sakit. Serba salah.

Lalu jika tak mau salah, maka jangan menilai? jangan berucap? jangan menduga? jangan berpikir? jangan berpendapat? jangan bereaksi? jangan memeluk? dan, ini yang ekstrem, jangan mencintai?

aku tidak takut salah.

 
Leave a comment

Posted by on March 22, 2012 in journey, renungan

 

Tags: ,