Menjadi Puteri Indonesia tidaklah sulit, ia hanya harus menjadi dirinya sendiri….
Masih terekam jelas dalam ingatan saya, itu adalah kalimat yang saya pilih saat kami para kontestan diminta untuk mengampanyekan diri kami masing-masing dalam iklan malam final Pemilihan Puteri Indonesia yang disiarkan langsung Indosiar. Harapannya, penonton akan lebih mengenal kami, walau hanya melalui sepotong ucapan, semboyan, atau apapun itu namanya dalam bentuk iklan. Panitia membebaskan materi apa yang akan kami pilih untuk promosi diri, asal durasinya tidak lebih dari 30 detik.
Beberapa teman memilih menceritakan alasan mereka mengikuti ajang Puteri Indonesia. Sebagian yang lain menyelipkan beberapa prestasi nasional dan internasional, yang kira-kira relevan menjadikan mereka calon kuat Puteri Indonesia 2001. Saya sempat kelu. Datang tanpa pernah bermimpi memenangi kontes seperti ini, saya berpikir keras saat itu.. prestasi apa yang bisa saya banggakan… Hobby saya yang kadang membawa prestasi nggak jauh dari basket, main drum, menyanyi, atau karate. Saya nggak pernah ikut putri2an sebelumnya, juga nggak punya prestasi internasional seperti pertukaran pelajar, misalnya… Ah, pusing sayah!
Beruntung, dari 35 peserta, saya kebagian nomer 32 (karena kontestan no.1 adalah Aceh, dan kontestan terakhir adalah Papua) sehingga saya masih punya waktu berpikir, apa “jualan” saya di depan kamera. Yang pasti, saat itu saya ingin kalimat yang keluar dari mulut saya jujur, nggak mengada-ada, atau berlebihan. Saya ingin jadi diri saya sendiri saja. Nah, Itu dia! Mengapa saya harus susah-susah? Maka saat giliran take, kalimat itulah yang keluar dari mulut saya: “Menjadi Puteri Indonesia tidaklah sulit. Ia hanya harus menjadi dirinya sendiri.” Dari segi durasi, mungkin saya rugi. Bayangkan, dari jatah 30 detik untuk mempromosikan diri, saya hanya menghabiskan sekitar 7 detik saja. Hahahaha…
Tapi itulah saya. Bagi saya, bahkan sampai sekarang, menjadi Puteri Indonesia memang nggak susah kok. Ia hanya harus memiliki karakter yang kuat, sehingga tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Tetapi, menjadi diri sendiri juga tidak sama dengan menutup mata dan telinga dari masukan dan kritik. Toh saya juga beberapa kali harus menelan pahitnya kritik dan masukan dari beberapa kawan, demi saya yang lebih baik, tanpa mengubah jati diri saya.
Tulisan ini saya gubah bukan karena momentum penahanan Angelina Sondakh, Puteri Indonesia 2001 terkait kasus korupsi. Sama sekali tidak. Angie punya prestasi, jalan hidup, dan pilihan hidupnya sendiri. Begitupun saya, dengan pilihan hidup saya yang kadang “ajaib” :p. Saya tidak pernah dalam posisi menilai, apalagi menghakimi Angie. Tetapi agak sedih juga ya, melihat CG TVone, misalnya, yang memilih kalimat: “Sang Puteri Masuk Bui”. Well, memang gelar Puteri dan apa yang menimpanya menjadi “terlalu seksi” untuk tidak diangkat sebagai background pemberitaan. Tetapi kadang media kemudian malah gagal menjelaskan duduk perkara karena terlalu asyik “memainkan” background itu. Ada lagi yang lucu.. Beberapa teman yang, entah bercanda atau tidak, belakangan ini gencar bertanya: “Kalau Angie dipenjara, kamu runner up-nya jadi Puteri Indonesia 2001 dong ya menggantikan Angie?” Biasanya dengan tergelak, saya menjawab: “Aduh, itu sepuluh tahun yang lalu loh!”
Teman-teman, Angelina Patricia Pingkan Sondakh terpilih menjadi Puteri Indonesia pada tahun 2001 berdasarkan penilaian para juri saat itu. Apa yang menimpanya saat ini, menurut saya tidak akan pernah menggugurkan gelar yang diraihnya 11 tahun yang lalu itu…
Pasti juri punya pertimbangan yang matang sehingga menobatkan Angie sebagai pemenang. Benar kan, Bapak dan Ibu juri?
Mungkin, pola pikir dan cara pandang kita juga harus sedikit diubah. Well, mungkin loh.. Katakanlah ini tawaran dari saya. Bagaimana kalau kita melihat Puteri Indonesia lebih dari sebatas gelar kontes Brain, Beauty, and Behavior yang disponsori produk kosmetik? Bagaimana kalau kita melihat Puteri Indonesia sebagai sebuah konsep? Konsep Perempuan Indonesia yang berkarakter kuat, yang tidak perlu ajang pembuktian, selain menjadi dirinya sendiri yang berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak?


